Monday, December 21, 2020

PARAGRAF DALAM BAHASA INDONESIA



A. Definisi Paragraf
    Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik. Paragraf merupakan perpaduan kalimat-kalimat yang memperlihatkan kesatuan pikiran atau kalimat-kalimat yang berkaitan dalam membentuk gagasan atau topik tersebut. Sebuah paragraf mungkin terdiri atas sebuah kalimat, mungkin terdiri atas dua kalimat, mungkin juga lebih dari dua buah kalimat. Bahkan, sering kita temukan bahwa suatu paragraf berisi lebih dari lima buah kalimat. Walaupun paragraf itu mengandung beberapa kalimat, tidak satu pun dari kalimat-kalimat itu yang memperkatakan soal lain. Seluruhnya memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah itu. 

B. Syarat-syarat Paragraf 
Paragraf yang baik harus memiliki dua ketentuan, yaitu kesatuan dan kepaduan paragraf. Berikut penjelasannya. 

1. Kesatuan Paragraf 
    Dalam sebuah paragraf terdapat hanya satu pokok pikiran. Oleh sebab itu, kalimat-kalimat yang membentuk paragraf perlu ditata secara cermat agar tidak ada satu pun kalimat yang menyimpang dari ide pokok paragraf itu. Kalau ada kalimat yang menyimpang dari pokok pikiran paragraf itu, paragraf menjadi tidak padu, dan tidak utuh. Kalimat yang menyimpang itu harus dikeluarkan dari paragraf. 

2. Kepaduan Paragraf 
    Kepaduan paragraf dapat terlihat melalui penyusunan kalimat secara logis dan melalui ungkapan-ungkapan (kata-kata) pengait antarkalimat. Urutan yang logis akan terlihat dalam susunan kalimat-kalimat dalam paragraf itu. Dalam paragraf itu tidak ada kalimat-kalimat yang sumbang atau keluar dari permasalahan yang dibicarakan. Ungkapan pengait antarkalimat dapat berupa ungkapan penghubung transisi. 
    Beberapa Kata Transisi: 

a) Hubungan tambahan, dapat digunakan kata-kata berikut: lebih lagi, selanjutnya, tambahan pula, di samping itu, lalu, berikutnya, demikian pula, begitu juga, lagi pula. 
b) Hubungan pertentangan, dapat digunakan kata-kata berikut: akan tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, sebaliknya, meskipun begitu, lain halnya. 
c) Hubungan perbandingan, dapat digunakan kata-kata berikut: sama dengan itu, dalam hal yang demikian, sehubungan dengan itu. 
d) Hubungan akibat, dapat digunakan kata-kata berikut: oleh sebab itu, jadi, akibatnya, oleh karena itu, maka. 
e) Hubungan tujuan, dapat digunakan kata-kata berikut: untuk itu, untuk maksud itu. 
f) Hubungan singkatan, dapat digunakan kata-kata berikut: singkatnya, pendeknya, akhirnya, pada umumnya, dengan kata lain, sebagai simpulan. 
g) Hubungan waktu, dapat digunakan kata-kata berikut: sementara itu, segera setelah itu, beberapa saat kemudian. 
h) Hubungan tempat, dapat digunakan kata berikut: berdekatan dengan itu. 

C. Pembagian Paragraf
    Menurut Jenisnya Dalam sebuah karangan (komposisi) biasanya terdapat tiga macam paragraf jika dilihat dari segi jenisnya. 

1. Paragraf Pembuka Paragraf ini merupakan pembuka atau pengantar untuk sampai pada segala pembicaraan yang akan menyusul kemudian. Oleh sebab itu, paragraf pembuka harus dapat menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menghubungkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan disajikan selanjutnya. Salah satu cara untuk menarik perhatian ini ialah dengan mengutip pernyataan yang memberikan rangsangan dari para terkemuka atau orang yang terkenal. 
      
2. Paragraf Pengembang Paragraf pengembang ialah paragraf yang terletak antara paragraf pembuka dan paragraf yang terakhir sekali di dalam judul atau anak judul itu. Paragraf ini mengembangkan pokok pembicaraan yang dirancang. Dengan kata lain, paragraf pengembang mengemukakan inti persoalan yang akan dikemukakan. Oleh sebab itu, satu paragraf dan paragraf yang lain harus memperlihatkan hubungan yang serasi dan logis. Paragraf ini dapat dikembangkan dengan cara ekspositoris, deskriptif, naratif, atau dengan cara argumentatif. 

3. Paragraf Penutup Paragraf penutup adalah paragraf yang terdapat pada akhir karangan atau pada akhir dari suatu kesatuan yang lebih kecil di dalam karangan itu. Biasanya, paragraf penutup berupa kesimpulan semua pembicaraan yang telah dipaparkan pada bagian-bagian sebelumnya. 

D. Rangka atau Struktur Sebuah Paragraf 
     Rangka atau struktur sebuah paragraf terdiri atas sebuah kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Dengan kata lain, apabila dalam sebuah paragraf terdapat lebih dari sebuah kalimat topik, paragraf itu tidak termasuk paragraf yang baik. Kalimat-kalimat di dalam paragraf itu harus saling mendukung, saling menunjang, kait-berkait satu dengan yang lainnya. Kalimat topik adalah kalimat yang berisi topik yang dibicarakan pengarang. Pengarang meletakkan inti maksud pembicaraannya pada kalimat topik. Oleh karena itu, topik paragraf adalah pikiran utama dalam sebuah paragraf, kalimat topik merupakan kalimat utama dalam paragraf itu. Dengan demikian, tiap paragraf hanya mempunyai sebuah topik, sehingga tiap paragraf tentu hanya mempunyai satu kalimat utama. 

E. Paragraf Deduktif dan Paragraf Induktif 
    Paragraf yang meletakkan kalimat topik pada awal paragraf disebut paragraf deduktif, sedangkan paragraf yang meletakkan kalimat topik di akhir paragraf disebut paragraf induktif. Contoh paragraf pertama meletakkan kalimat topiknya di bagian awal paragraf. Perhatikan kalimat yang huruf tebal pada contoh paragraf berikut: 
    Arang aktif adalah sejenis arang yang diperoleh dari suatu pembakaran yang mempunyai sifat tidak larut dalam air. Arang ini dapat diperoleh dari pembakaran zat-zat tertentu, seperti ampas tebu, tempurung kelapa, dan tongkol jagung. Jenis arang ini banyak digunakan dalam beberapa industri pangan atau nonpangan. Industri yang menggunakan arang aktif adalah industri kimia dan farmasi, seperti pekerjaan memurnikan minyak, menghilangkan bau yang tidak murni, dan menguapkan zat yang tidak perlu. 

F. Pengembangan Paragraf 
    Mengarang itu adalah mengembangkan beberapa kalimat topik. Dengan demikian, dalam karangan itu kita harus mengembangkan beberapa paragraf demi paragraf. Oleh karena itu, kita harus hemat menempatkan kalimat topik. 
    Satu paragraf hanya mengandung sebuah kalimat topik. Teknik pengembangan paragraf itu, secara garis besarnya, ada dua macam. Pertama, dengan menggunakan ”ilustrasi”. Apa yang dikatakan kalimat topik itu dilukiskan dan digambarkan dengan kalimat-kalimat penjelas sehingga di depan pembaca tergambar dengan nyata apa yang dimaksud oleh penulis. Kedua, dengan ”analisis”. Apa yang dinyatakan kalimat topik dianalisis secara logika sehingga pernyataan tadi merupakan suatu yang meyakinkan. 
    Di dalam praktek, kedua teknik di atas dapat dirinci lagi menjadi beberapa cara yang lebih praktis, di antaranya (a) dengan memberikan contoh, (b) dengan menampilkan fakta-fakta, (c) dengan memberikan alasan-alasan, dan (d) dengan bercerita. 
Perhatikan contoh-contoh di bawah ini. 

1. Dengan Memberikan Contoh Dalam menggunakan cara ini, penulis hendaknya pandai memilih contoh-contoh yang umum, contoh yang representatif, yang dapat mewakili keadaan yang sebenarnya. Jadi, bukan contoh yang terlalu dicari-cari. Perhatikan paragraf berikut. 
    Kegiatan KUD di desa-desa yang belum dewasa sering dicampuri oleh tengkulak-tengkulak. Misalnya, di Desa Kioro. Apa saja kegiatan KUD selalu dipantau oleh tengkulak-tengkulak. Kadang-kadang bukan memantau lagi namanya, tetapi langsung ikut serta menentukan harga gabah penduduk yang akan dijual ke koperasi. Tengkulak itulah yang mengatur pembagian uang yang ditangani oleh ketua koperasi, mengatur pembelian padi, dan sebagainya. Demikian pula dalam menjual kembali ke masyarakat. Harga yang ditentukan selalu ditentukan oleh tengkulak itu. Dari hasil penjualan ini dia meminta upah yang cukup besar dari ketua koperasi. 

2. Dengan Menampilkan Fakta-fakta Pengembangan paragraf dengan cara ini dapat dilihat pada contoh berikut. 
    Murid kelas V SD Sudirman III Makassar termasuk murid yang rajin bekerja bakti. Kegemaran mereka bergotong- royong terlihat dengan jelas. Setiap hari Jumat anak-anak wanita telah duduk berjongkok di depan pot-pot bunga, menyiraminya dan mengaturnya, sedangkan anak laki-laki sibuk pula menyapu lantai sekolah. Tidak sampai di situ. Pada hari Minggu mereka membagi tugas untuk membersihkan kelasnya tanpa harus didampingi oleh seorang guru. 

3. Dengan Memberikan Alasan-alasan Dalam cara ini, apa yang dinyatakan oleh kalimat topik dianalisis berdasarkan logika, dibuktikan dengan uraian-uraian yang logis dengan menjelaskan sebab-sebab mengapa demikian.  Perhatikan paragraf berikut. 
    Membiasakan diri berolah raga setiap pagi banyak manfaatnya bagi seorang pegawai. Olah raga itu sangat perlu untuk mengimbangi kegiatan duduk berjam-jam di belakang meja kantor. Kalau tidak demikian, pegawai itu akan menderita beberapa penyakit karena tidak adanya keseimbangan kerja otak dan kerja fisik. Kalau pegawai itu menderita sakit, berarti dia membengkalaikan pekerjaan kantor yang berarti pula melumpuhkan kegiatan negara. 

4. Dengan Bercerita Biasanya, pengarang mengungkapkan kembali peristiwa-peristiwa yang sedang atau sudah berlalu apabila ia mengembangkan paragraf dengan cara ini. Dengan paragraf itu, pengarang berusaha membuat lukisannya itu hidup kembali. Perhatikan paragraf berikut. 
    Ketika perjalanan dari Makassar ke Kota Watampone. Kota Maros telah mereka lalui. Kini jalan lebih menanjak dan sempit berliku-liku. Bus meraung-raung ke dataran tinggi Camba. Di samping kanan jurang menganga, tetapi pemandangan di kejauhan adalah hutan kemiri menyelimuti punggung bukit dan bekas-bekas kawah yang memutih. Pemandangan itu melalaikan guncangan bus yang tak henti-hentinya berkelok-kelok. Sesekali atap rumah berderet kelihatan di kejauhan. 

(Disarikan dari Buku: "Mari Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar" Penulis: Dr. Syahruddin, Penerbit: Permata Ilmu Makassar)